Rectoverso: Hanya Isyarat, Dewi ‘dee’ Lestari

tumblr_m5l80ouaiz1qc2suh

Ku coba semua, segala cara
Kau membelakangiku
Ku nikmati bayangmu
Itulah saja cara yang bisa
Untuk kumenghayatimu
Untuk mencintaimu

Sesaat dunia jadi tiada
Hanya diriku yang mengamatimu
Dan dirimu yang jauh di sana
Ku tak kan bisa lindungi hati
Jangan pernah kau tatapkan wajahmu
Bantulah aku semampumu

(Rasakanlah)
Isyarat yang sanggup kau rasa
Tanpa perlu kau sentuh
(Rasakanlah) Harapan, impian,
Yang hidup hanya untuk sekejap
(Rasakanlah) Langit, hujan,
Detak, hangat nafasku

(Rasakanlah)
Isyarat yang mampu kau tangkap
Tanpa perlu kuucap,
(Rasakanlah) Air, udara,
Bulan, bintang
Angin, malam,
Ruang, waktu, puisi

Itulah saja cara yang bisa
Untuk menghayatimu
Untuk mencintaimu

Entah hijau, entah coklat muda. Belum pernah kulihat bola mata berwana hijau, jadi tidak bisa terlalu yakin. Dan tempat ini didesain dengan penerangan yang buruk. Remang yang malah tidak romantis. Remang yang membuat segalanya tidak jelas. Namun hanya tempat ini yang masih buka.Hiburan yang tersedia adalah tayangan pertandingan sepak bola dini hari dari televisi 14 inci dan kumandang lagu disko era satu dekade silam serta kerlap-kerlip bohlam warna-warni yang sebaiknya jangan dilihat lebih dari satu menit karena membuat mata sakit.

Tinggal empat manusia yang tersisa, dan satu diantaranya. Karenanya aku bertahan. Satu-satunya betina yang menguapkan feromon di sekumpulan makhluk jantan. Secara alamiah tak mungkin aku dilewatkan. Namun mereka malas menggubris karena tidak pernah ada pembicaraan menarik keluar dari mulutku sejak hari pertama kami semua berkenalan. Sementara aku tetap menyandang status “kenalan“, mereka sudah menjadi tiga serangkai – sahabat temporer yang dikondisikan waktu dan tempat. Aku merasa tidak rugi. Yang menarik dari mereka hanyalah dia. Dan dia bukanlah pembicaraan. Dia adalah tujuan. Tujuan bertahan.

Satu diantara mereka menghampiri meja bar, meminta lampu warna-warni itu dimatikan. Rupanya mereka tidak lagi tahan. Cuma aku yang tidak terganggu. Kelap-kelip itu menjadikanku semacam latar yang kadang menyerupai manusia kadang bukan. Dan dalam keraguan orang akan merasa lebih baik diam. Kehadiranku jadi tidak perlu dikonfirmasi. Aku butuh lampu-lampu itu.

Satu diantara mereka sampai berteriak senang begitu sakelar lampu dipadamkan. Yang tersisa tinggallah sinar rembulan dan lampu berkekuatan kecil yang menyerupai penerangan lilin. Malam mendadak manis. Tempat itu mendadak romantis. Aku tidak suka.

Tanpa sengaja dia menoleh ke arahku. Mereka tidak bisa lagi menghindar. Aku pun tidak bisa lagi menyamar menjadi latar. Sebuah kursi didekatkan ke meja mereka, dan dia mempersilakan aku duduk. Dia, yang paling kucari. Tapi tidak dalam jarak seperti ini.

Kursi kami yang berdempetan membuat tempurung lutut kami bersinggungan. Andai ada pintu masuk disitu, akan kuselundupkan setengah bahkan tiga perempat jiwaku untuk merasukinya, untuk membaca pikirannya, memata-matai perasaannya. Cukup seperempat saja jiwaku berjaga di meja itu, untuk tersenyum sopan, tertawa kecil, dan merespon ‘oh’ atau ‘oooh’ atas percakapan apa pun.

“Kami sedang melakukan satu permainan“, dia menjelaskan. “Bertukar cerita paling sedih,” temannya menambahkan, “yang terpilih jadi juara akan mendapatkan . . . ini”. Sebuah botol bir yang masih utuh digeser ke pusat meja.

Cepat kujelaskan bahwa aku tidak minum bir sehingga tidak perlu ikut berlomba. Cepat pula mereka melontarkan ide baru, bahwa bagi yang tidak minum bir akan disediakan hadiah lain, yakni kesempatan untuk memilih siapa pun untuk melakuan apa pun dan tidak boleh ditolak. Ide itu disambut baik. Bahkan ide bir sebagai hadiah utama dilengserkan.

Satu demi satu bercerita. Kisah putus cinta, kisah kehilangan teman, dan kisah bencana alam. Tiba gilirannya. Dia berkisah tentang cahaya. Dia pernah mati suri, dan dalam tidurnya ia melihat padang hijau, lalu cahaya besar. Namun di saat cahaya itu hendak merengkuhnya, ia justru terbangun. Semua orang yang saat itu menungguinya terbaring koma tentu saja bergembira. Tapi ia tidak. Hatinya bahkan patah. Ia menemukan cinta sejati dalam sebuah cahaya entah apa, yang cuma bisa ditemui saat mati suri atau mati betulan. Pertemuan yang teramat mahal. Akhirnya dia memutuskan untuk jadi pertapa di abad modern, menjadi manusia yang mengatasi cinta insani dan berjuang untuk mrnghikmati cinta ilahi. Demi kembali menemukan cahaya itu, tanpa perlu tunggu koma atau ko’it.

Ketiga temannya termenung. Sulit berempati pada kisahnya. Aku juga termenung.

“Giliran kamu”, suaranya memecah kesunyian. Kepalanya menoleh ke arahku, matanya menatap mataku. Cepat aku menatap bulan yang lebih mudah dihadapi.

Sejenak aku teringat botol bir yang berembun tadi, aku teringat trotoar tempat kami berjalan dan kakinya yang kubiarkan melangkah beberapa meter di depan, aku teringat siluet punggungnya yang menghadap panggung di bar yang kami kunjungi sebelum ini,aku teringat kehidupanku beberapa hari yang lalu sebelum bertemu dengannya, aku teringat ke mana aku harus kembali setelah malam ini, dan ke mana ia pergi nanti.

Aku mulai berkisah, tentang satu sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana. Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja. Hanya itu yang mampu ibunya beli. Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung. Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap. Punggung menjadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.

Mereka semua senyap, lalu memandangiku. Mereka tidak menduga kata-kata sebanyak itu meluncur keluar dari orang yang selama ini mereka kira arca. Dan betapa gemas mereka menanti lanjutan cerita tentang punggung ayam di negeri orang.

Aku meghela napas. Kisah ini terasa semakin berat membebani lidah. Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

“Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian yang lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki”. Kusudahi kisahku seraya menyambar botol bir yang tidak lagi jadi piala dan mendadak terlihat sanagat menarik.

Mereka semua berpandang-pandangan, mencari sang juara. Aku menunduk dan memilih tidak ikut serta. Tahunan tidak mengecap alkohol, bir ini menjadi lebih dahsyat dari semua kisah sedih tadi.

Tiba-tiba kudengar mereka bertepuk tangan. Dia bahkan menyalamiku. Kisahku dinobatkan jadi juara, dan kini saatnya menentukan hadiah yang kumau. Siapa dan melakukan apa. Mereka begitu bersemangat menunggu titah dari mulutku yang ternyata penuh kejutan. Untuk pertama kalinya aku menjadi bagian dari mereka, sekelompok sahabat temporer yang bertemu di satu tempat asing dan kelak hanya akan berkim surat elektronik. Namun bukan itu yang kucari. Aku hanya ingin kembali ke tempatku, di belakang sana. Menikmati apa yang kusanggup, Bukan di meja ini, bukan di sebelahnya, bukan bersentuhan dengan kakinya.

Malam itu, sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang, aku memilih dia. Aku menyuruhnya pergi ke bar dan menyalahkan lampu warna-warni tadi. Kemudian aku permisi pergi ke tempat dudukku semula, supaya sekembalinya ia nanti, diriku sudah berubah menjadi latar tak jelas yang tak perlu diajak bicara. Tempat ini kembali remang tak romantis. Ia kembali menjadi sebentuk punggung yang sanggup kuhayati, yang kuisyarati halus melalui udara, langit, sinar bulan,atau gelembung bir .

Matanya cokelat muda.

Itu sudah lebih dari cukup.

Iklan

Jangan Bandingkan

“ Ketika kehidupan sudah tak lagi mampu meberi kebahagiaan mungkin pilihan yang terbaik adalah kematian “

Seseorang menghargai kehidupan yang sudah Tuhan sang maha pencipta berikan kepadanya, namun terkadang seseorang tersebut  juga menyesali kenapa dia harus lahir? Dia merasa hanya dan selalu menjadi beban untuk orang-orang disekitanya,,,

Adakah orang yang bisa menerima seseorang lain dengan apa adanya?? Mungkin gak akan ada, karena saya juga meraskannya, saya juga tak bisa menerima seseorang apa adanya, namun tidak ingin memaksakan kehendak, namun jika orangtua yang sudah melahirkan anaknya saja tidak bisa dan  tidak mau menerima anaknya dengan apa adanya bagaimana dengan orang lain?

Entah mengapa banyak orang tua yang tidak bisa menerima anaknya dengan apa adanya, mereka selalu saja menuntut banyak hal, membanding-bandingkan anaknya dengan orang lain, menyanjung tinggi orang lain didepan anaknya. Tapi apakah mereka tahu bagaimana perasaan anaknya?? Apakah mereka pernah berpikir apa yang terjadi pada mental anak itu??

Anak-anak  yang terlalu sering dibandingkan dengan orang lain, direndah-rendahkan seakan tidak bisa apa-apa memiliki tekan batin yang sangat dalam. Mungkin terkadang mereka terlihat cuek menangapi hal itu tapi ada perang batin di dalam dirinya, kenapa harus selalu dibandingkan? Kenapa harus selalu direndah-rendahkan? Kenapa harus selalu meminta mereka untuk menjadi orang lain? Belum tentu orang yang di tinggi-tinggikan tadi jauh lebih baik.

Setiap orang didunia ini dilahirkan, diciptakan dengan tujuan masing-masing, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, setiap orang itu berbeda pribadinya, bakatnya, kelebihannya dan kekurangannya, tidak ada manusia yang sempurna, seperti apapun seseorang berusaha untuk menjadi sempurna hal itu tidak akan perrnah terjadi.

Pernahkah para orang tua berpikir bagaimana perasaan anaknya ketika dia dibanding-bandingkan dengan orang lain??? Sakit-sangat-sakit, hal itu menadakan bahwa si orang tua tidak menginginkan anaknya yang sekarang. Dia ingin anaknya yang seperti orang lain, terlau banyak menuntut hal itulah yang selalu dilakukan kebanyakan orang tua, mereka terlalu ingin meiliki anak yang sempurna mungkin apa yang mereka lakukan adalah untuk kebaikan anaknya, namun hal itu justru akan meperburuk keadaan, meyanjung orang lain, meyebutkan kelebihan, kemampuan, kepandaian orang lain di depan anaknya lalu merendah-rendahkan anaknya langsung di depan orang lain hanya akan mebuat anak itu down, frustasi, putus asa, anak itu akan menganggap bahwa dirinya itu tidak bisa apa-apa, dia hanya menjadi beban utnuk orang tuanya, dia tidak pernah diharapkan dengan keberadaanya, orang tuanya hanya ingin ada orang lain disana, bukan dia dengan kekurangannya tapi dia yang adalah sosok orang lain.

“Hidup seharusnya realistis jangan terlalu banyak menuntut sesuatu dari seseorang, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, jangan suka mebanding-bandingkan seseorang dengan orang lain, terutama buat para orang tua anak anda terlahir dengan apa adanya, dia tidak bisa memilih mau lahir dari siapa. Begitu juga kalian tidak bisa memilih untuk melahirkan siapa, melahirkan anak yang seperti apa, semua itu sudah rencana Tuhan, jadi bersikaplah adil, jika anak anda tidak membandingkana anda dengan orangtua lain kenapa anda harus membandingkan dia dengan anak lain”

Monita Tahalea – Ingatlah (lirik)

Kita pernah ada
Di satu masa bersama
Walau kini tak sama
Jangan lupakan indahnya
Reff:Ingat dan teruslah kau kenang-kenang semua
Kata-kata tak perlu kau ucapkan juga
Asal kau terus kau simpan dalam sudut jiwa
Ku ‘kan dapat merasakannya
Masih selalu ada
Cerita lama dan tawa
Masih tersimpan juga
Sedih saat kau tak ada
Back to Reff: 2x
Ku percaya jalanan kita
Semestinya membawa bahagia
Back to Reff: 2x
Ku ‘kan selalu merasakannya
Kita pernah ada
Di satu masa bersama

indah bersamamu ( kerinduan) – Lagu Kenangan PPM

ok, kali ini saya mau nge-share lirik lagu rohani yang kece nih,  ini lagu yang kami ( peserta yang beragama kristen PPM HIMBASI 2013 dan Mentor ) bawa saat kesaksian di sebuah Gereja yang ada di desa sutera kecamatan sukadana Kabupaten Kayong Utara judulnya INDAH BERSAMAMU atau KERINDUAN

Hanya ada satu pribadiYang kenal benar saiapa aku

Dia tak pernah ragukanku

Tak pernah sangsikanku

Tak pernah hianatiku

Slalu percaya padaku

Kerinduan hatiku

Nikmati diriMu

Nikmati indahnya hadirMu

Tak ingin jauh dariMu

Diriku milikMu

Indah bersamaMu

Selamanya

Quote film CINTA PERTAMA ( sunny)

Abby adalah laki-laki terbaik
yang bisa kudapatkan.
Aku sangat beruntung
tapi apakah rasa keberuntungan ini
yang kubutuhkan sekarang?
Tapi kenapa aku masih merindukan dia
yang pernah mengisi hariku dulu?
Aku merasa ada yang hilang
tanpa tahu apa yang sudah kutemukan,
aku merasa menemukan
tanpa tahu apa yang kucari,
dan aku seperti masih mencari
tanpa tahu apa yang sudah hilang.
Manusia memiliki mimpi.
Ada yang mengejar dan mewujudkannya,
ada yang mundur dan membuangnya,
ada pula yangg diam
dan hanya meyimpannya
sepanjang sisa hidupnya.
Dan aku akan menjadi manusia yg terakhir itu…

 

“Seseorang yang kita pikir adalah milik kita,
ternyata bukan benar-benar milik kita. Kita
memiliki hatinya, tubuhnya, dan cintanya , Tapi
kita tidak akan pernah memiliki jalan hidupnya.”

“Cinta, apakah benar-benar ada?. Aku menjadi
bermakna bukan ketika cinta berhak
menghampiriku, tetapi aku merasa sudah
bermakna sejak aku harap cinta menghampiriku.
Karena apa yang lebih bermakna dalam hidup
sebenarnya tidak perlu.”

“Aku merasa ada yang hilang,tanpa tahu apa
yang sudah aku temukan. Aku merasa
menemukan tanpa tahu apa yang aku cari, dan
aku seperti masih mencari tanpa tahu apa yang
sudah hilang.”

“Manusia memiliki mimpi, ada yang mengejardan
mewujudkannya, ada yang mundur dan
membuangnya, adapula yang diam dan hanya
menyimpannya sepanjang sisa hidupnya, dan
aku akan menjadi manusia yang terakhir itu.

ten 2 five – you

EM7 C#m7
You..did it again
AM7
You did my heart
G#m7
I dont know how many times
EM7 C#m7
Oh you...I dont know what you say
AM7
You've made so desperately in love
BM7
And now you let me down

(*)
C#m7
You said you'd never lie again
G#m7
You said this time would be so right
AM7 BM7
But then I found you were lying there by her side

Reff :

EM7 C#m7
Oh you...you turned my whole life so blue
AM7
Drowning me so deep
BM7
I just can't reach my self again
EM7 C#m7
Oh you...successfully tore my heart
DM7
Now it's only pieces
CM7
Oh nothing left but pieces of you

Intro : EM7 C#m7 DM7 AM7 BM7

EM7 C#m7
Oh you...frustrated me with this love
AM7
I've been trying to understand
G#m7
You know I'm trying...I'm trying
EM7 C#m7
Oh you...I dont know what to say
AM7
You've made so desperately in love
BM7
And know you let me down

sahabat itu selamanya…

sahabt itu selamanya...

sahabat? tau kata ini kan semua orang pasti punya sosok yang dinamakan sahabat. buat saya dia Resti Rahmayani itu sahabat saya saya 6 tahun kenal dia, dan mungkin dia bukan hanya sekedar sahabat buat saya tapi udah kayak kakak sendiri. dari SMP kelas 1 sampai SMA kelas 3 saya sama dia selalu duduk satu meja hehe keculi pas SMA kelas 1 karena kebetulan beda kelas hehe

sekarang kita udah jauh beda lokasi dia sekarang ngelanjutin kuliah di STIKES Widya Dharma Semarang jurusan Teknik Rontgen. walaupun jauh puji Tuhan komunikasi kita masih lancar walaupun gak terlalu sering, kita sering curhat-curhatan.

buat saya dia adalah orang yang bisa ngerti saya, sampai sekarang dia masih yang terbaik..

“Tidak ada persahabatan yg sempurna di dunia ini. yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya.” – refrain